strategi pemasaran “kesalahan utama dalam pemasaran”

Strategi pemasaran 1. miliki pasar anda sendiri jangan jadi pengikut

pemasaran

pemasaran

Seorang teman saya sangat bangga karena dia bisa mengekspor mebel ke

Taiwan dalam jumlah besar. Saya pernah diajak jalan-jalan ke pabriknya. Dengan muka

berseri-seri, ia menunjukkan tentang proses produksi secara lengkap.

Hebatnya, satu tahun sebelumnya, ia belum tahu apa-apa tentang mebel.

Ceritanya, pada suatu hari ia bertemu dengan seorang warga Taiwan, yang kemudian

mengajarinya tentang permebelan. Orang Taiwan ini, waktu itu, sedang mengalamai

problem besar. Dulu ia bisa membeli kayu log dari Indonesia, tapi mendadak tidak bisa

lagi. Ada larangan ekspor log dari pemerintah Indonesia. Maka, sebuah kerja sama

antara warga Taiwan tadi dan kawan saya untuk membuat perusahaan mebel itu jadi

klop.

Mulai dari nol sampai mengerti mebel, kawan saya itu diajari oleh orang Taiwan

tersebut. Pembagian kerja antarmereka sederhana saja:

“Kamu yang bikin, saya yang jual.”

“Kamu punya kayu, saya punya pasar.”

“Kamu untung, saya pun untung.”

Kerja sama seperti ini kelihatan seperti win-win. Bahkan win-win-win. Mengapa?

Pemerintah Indonesia ikut senang: dapaat emplyoment, dapat pajak, dan sebagainya.

Apa yang terjadi beberapa tahun kemudian? Ketika saya bertemu kembali

dengan teman tersebut, ia sedang gundah. Ia bercerita panjang lebar bahwa janji mulukmuluk

partnernya tentang passar yang besar ternyata janji kosong.

Secara legal, ia tidak bisa menuntut apa-apa.. Janji itu tidak tertulis. Susahnya,

pada waktu orang Taiwan itu mengalihkan ordernya kepada orang lain, yang bisa

memberinya produk yang sama dengan harga lebih murah, teman saya hanya bisa gigit

jari. Ia tidak bisa apa-apa karena tidak tahu apa-apa tentang pasar Taiwan.

Kisah klasik seperti ini juga sering kita dengar dari orang-orang yang tidak

mengerti tambak tapi ikut ramai-ramai masuk industri tersebut. Setelah melakukan

investasi besar-besaran, janji pembelian bisa hilang begitu saja.

Dari pengalaman di atas dapat di tarik pelajaran

  1. Dalam kasus ini pihak teman saya hanya jadi tukan jahit jadi dia hanya menerima order dari satu orang dan tidak mengetahui selera konsumenya Jadilah pihak yang memiliki akses kepada konsumen sehingga mampu mengetahui selera konsumenya
  2. Dalam kasus ini bran image produk dimiliki oleh pihak taiwan sehingga dia yang menetukan bentuk ukuran disain akibatnya pihak indonesia hanya berperan sebagai tukan jahit maka dapat kita pelajari bahwa Miliki brand image produk sendiri sebagai positionig produck sehingga konsumen akan mencari produk kita          lebih lengkap mengenai brain image klik disini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: