karakteristik pasar diera globalisasi

Era Globalisasi orang lebih suka produk negara lain (luar negeri)

Masih ingat Lee Iaccoca ? Ia adalah pahlawan yang mengangkat pabrik

mobil Chrysler dari lembah kehancuran. Setelah dipecat dari pabrik mobil Ford, tanpa

sebab yang jelas, ia membuktikan kepiawaiannya di Chrysler. Iaccoca kemudian

menulis beberapa buku tentang gaya manajemen yang dipergunakannya. Pendek kata,

ia berhasil mengubah citra diri dari negatif menjadi positif.

Tapi , apa yang terjadi waktu Detroit “diserang” Jepang ? Iaccoca ternyata

cuma pintar melawan pesaing di Amerika ketimbang musuh dari negara seberang.

Orang piawai dari Chrysler yang berkantor di Detroit iitu ternyata bingung melihat

Jepang bisa membuat produk dengan kualitas lebih bagus, tapi dengan harga lebih

murah.

Iaccoca bahkan sempat menuduh konsumen Amerika sudah tidak punya

nasionalisme lagi. Konsumen Amerika, katanya, tidak bisa menghargai produk sendiri.

Ia lalu mengadakan konferensi pers dan memasang iklan besar—besaran di media

massa untuk mengatakan bahwa sebenarnya mobil Amerika tidak kalah dibanding

dengan mobil Jepang. Strategi itu ternya tak mempan. Konsumen Amerika, yang sudah

tidak percaya kepada produk buatan dalam negeri, mengejek Iaccoca habis-habisan.

Kampanye seperti itu juga surut kembali tanpa hasil yang nyata. Ketika

berkunjung ke Tokyo, akhir tahun lalu, saya makin tidak melihat bedanya dengan

cewek-cewek di New York. Cewek-cewek Tokyo, seperti teman-temanya di New York,

sangat tergila-gila pada barang-barang bermerek dari Perancis. Buat orang Jepang ,

yang terkenal nasionalismenya, naik BMW buatan Jerman yang lebih bergengsi

daripada naikToyota. Bahkan pernah ada suatu angket yang pernah diselenggarakan di

Tokyo dengan cara bertanya kepda cewek-cewek muda. “Anda paling senang kalau

diajak kencan dengan mobil apa?” Jawabnya : “BMW putih.”

Kalau sempat berkunjung ke butik Channel di Singapura, Anda akan melihat

antrean wanita Jepang yang berharap bisa membeli produk tersebut lebih murah

dibandingkan dengan di negara sendiri . Sementara itu, di Jerman, yang dulu menyebut

diri selalu uber alles, ternyata McDonald’s jadi restoran terlaris. Orang Jerman juga

tergila-gila pada sensualitas Demi More di film Disclosure. Mereka juga suka pada

Madonna, Michael jackson, bahkan film Flintstone yang bauatan Amerika. Lalu apa?

Globalisasi membuat dunia tanpa perbatasan negara. Informasi bisa

menerobos ke seluruh pelosok dengan leluasa membuat nilai-nilai jadi berubah. Apa

yang dulu salah menjadi benar dan sebaliknya. Karena itu, makin sulit saja memvonis

seseorang kurang nasionalistis. Era penuh pilihan, seperti dikatakan Charles Handy,

sudah datang. Tapi, John Naisbitt juga memperingatkan bahwa ditengah derasnya arus

globalisasi akan timbul arus balik tribalisasi. Lihat saja, katanya, McDonald’s memang

makin terkenal di seluruh dunia, tapi makanan lokal juga akan makin dicari orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: